Catatan kali ini mencoba memahami frasa “pemimpin turun ke bawah merawat rasa bersama”.
Pemimpin turun ke bawah atau ke kantor-kantor cabang organisasi/perusahaan, adalah suatu hal yang lumrah dan menjadi kebutuhan dalam lingkup kegiatan perusahaan.
Momen turun ke cabang-cabang dikomandani langsung oleh Direktur Utama Reza Lutfi dan direksi lainnya. Turut juga jajaran kepala bagian dan staf Perumda Tirta Bhagasasi.
Direktur Utama – sang pemimpin- turun ke cabang-cabang perusahaan yang mengelola air bersih untuk masyarakat Bekasi ini, dalam memaknai suasana Idul Fitri 1447 H.
Kedatangannya, menyapa langsung dan bertatap wajah, saling maaf memaafkan karena dalam suasana Lebaran.
Di samping itu, dalam momen Lebaran ini, ada sudut pandang yang patut ditelisik untuk dipahami maksudnya, bahwa gaya kepemimpinan yang ideal itu di mana pemimpin tidak hanya memerintah dari atas, tetapi turun langsung ke lapangan.
Maksud turun ke kantor-kantor cabang dan kantor cabang pembantu, untuk mempererat silaturahmi, interaksi, mendengarkan, merawat perasaan bersama, kebutuhan tim dan masyarakat.
Hal lain, bahwa pemimpin turun lapangan adalah meneguhkan rasa aman, kepercayaan, solidaritas, berdialog langsung, meng-orang-kan jajaran pegawai, dan sentuhan nilai-nilai kemanusiaan.
Manfaat pemimpin turun ke cabang-cabang, lebih dan kurang dapat digambarkan, antara lain :
- Melihat langsung realitas lapangan tanpa polesan, interaksi, merasa dihargai, dan termotivasi.
- Menciptakan rasa bangga, di mana pemimpim hadir secara langsung dan mengurangi jarak dan hierarki.
- Pemimpin dapat melihat masalah nyata yang dihadapi oleh masing-masing cabang. Meningkatkan efektivitas pemimpin.
Dalam meningkatkan efektivitas pemimpin, diperkuat melalui komunikasi, kepercayaan, dan kualitas keputusan.
Hal tersebut dilakukan beberapa langkah, antara lain :
a. Memperbaiki kualitas informasi. Artinya pemimpin turun ke bawah (cabang-cabang) untuk melihat kondisi nyata di lapangan, bukan hanya angka dan laporan, tetapi memahami kebutuhan cabang-cabang yang relevan, tepat sasaran sesuai kebutuhan.
b. Meningkatkan komunikasi dan kepercayaan. Artinya cabang-cabang diperhatikan, lebih mudah menyampaikan keluhan, ide, saran, pendapat, usul, menerima umpan balik dari cabang-cabang yang konstruktif.
c. Membangun iklim kerja yang lebih positif. Artinya kehadiran pemimpin di cabang-cabang menciptakan rasa aman, dihargai, sehingga melahirkan motivasi kerja yang meningkat.
d. Menguatkan kontrol dan akuntabilitas. Artinya melakukan pengawasan, perbaikan, tidak mengandalkan lampiran masa lalu. Pemimpin bisa datang tiba-tiba melihat kinerja cabang-cabang.
e. Membangun kepemimpinan berbasis kebutuhan dasar. Artinya terbangun kebutuhan dasar individu yaitu rasa aman, pengakuan, dan dukungan. Pola relasi yang memanusiakan dan kolaboratif.
Dari gambaran tersebut di atas, bahwa pemimpin sering turun ke bawah atau ke cabang merefleksikan pemimpin lebih nyata, responsif, dan dekat dengan sumber masalah.
Hal lain, efektivitas kepemimpinan mendorong kinerja tim menjadi jauh lebih tinggi dan maksimal.
Pemimpin tidak membangun rasa buat kekuasaan, tetapi lewat kepercayaan, keadilan, dan dukungan. Dengan kepercayaan tim, para jajaran di kantor menjadi lebih berani berinovasi, berkolaborasi, dan bertanggung jawab.
Akhir dari sekedar catatan ini, bahwa pemimpin hadir tidak saja bawahan atau tim kerja saat bahagia atau sukses dalam tugas Tetapi pemimpin hadir saat dibutuhkan ada masalah, selalu memberikan semangat, dorongan, kepercayaan, dan cinta suatu refleksi sang pemimpin merawat rasa kebersamaan. (Ruslan Abd. Gani)


