Pelaksana Tugas Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja meninjau langsung pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah hari pertama di Sekolah Rakyat Kabupaten Bekasi, Cikarang Pusat, Senin (31/8). Di atas kawasan seluas lima hektare tersebut, sebanyak 417 murid dari keluarga prasejahtera mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Asep menegaskan bahwa seluruh murid yang tertampung dalam program ini disaring secara ketat melalui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial. Pemerintah daerah memberikan prioritas penuh kepada anak-anak yatim agar tidak kehilangan hak mendapatkan pendidikan formal yang layak.
“Basis data yang kami pakai adalah DTKS. Langkah awal ini akan terus dikembangkan ke depan. Di Sekolah Rakyat ini, fokus utama adalah pembentukan karakter peserta didik. Konsepnya asrama, jadi murid tidak diperkenankan pulang setiap pekan,” ujar Asep.
Adapun komposisi 417 siswa yang mengikuti MPLS terdiri dari 237 pelajar asli Kabupaten Bekasi (57 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA). Selain itu, terdapat 90 siswa mutasi dari Kota Bekasi (masing-masing 30 siswa di tingkat SD, SMP, dan SMA), serta 90 siswa dari sekolah rakyat rintisan Kota Bekasi (12 siswa SD dan 78 siswa SMA). Formasi ini menciptakan keberagaman di lingkungan sekolah dengan perbandingan 1:2 antara murid lokal dan pendatang.
Dalam pantauannya, Asep melihat kesiapan sarana dan prasarana sekolah sudah menembus angka 90 persen. Kendati demikian, ia menyadari bahwa transisi menuju kehidupan asrama menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa baru, terutama terkait regulasi kepulangan yang dibatasi tiga kali dalam setahun.
“Anak-anak tingkat SD mulai dilatih mandiri, seperti mencuci pakaian sendiri dan merawat kebutuhan pribadi. Pengetahuan menjaga kesehatan lingkungan asrama sangat krusial agar terhindar dari penyakit kulit. Mereka diajari tata cara menjemur pakaian yang benar sampai kering,” tutup Asep. (Tim Media)


