Karhutla Merusak Ekosistem Lingkungan

Dampak kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini di beberapa daerah, di antaranya Kalimantan, Riau Sumatera, Papua, dapat merusak ekosistem.

Selain hilangnya habitat flora dan fauna, sangat buruk dengan terganggunya keseimbangan lingkungan yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat.

Kemarau panjang yang terjadi, dipicu cuaca panas ekstrem dan fenomena El Niño. Hal ini sangat rentan membuat ranting, daun, serta lahan gambut kering. Kondisi ini membuat mudah terbakar.

Kebakaran hutan dan lahan, diperparah tiupan angin kencang yang dengan mudah merambah ke lahan lainnya.

Ekosistem yang rusak membuat cadangan air tanah hilang. Dampak lain, kabut asap mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat sekitar.

Asap tebal dapat mengganggu jarak pandang dan mencemari udara. Asap memicu penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada manusia.

Selain dampak kemarau, karhutla juga terjadi akibat dampak ulah manusia. Ini akibat pembukaan hutan menjadi lahan perkebunan dengan cara membakar hutan.

Menurut Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, saat ini pemerintah telah melakulan penindakan hukum atas 42 kasus karhutla dan menetapkan 72 tersangka oleh Bareskrim Polri.

Kini, penanganan dan penegakan serta pengawasan difokuskan di 6 provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. (berbagai sumber)