Tekanan ekonomi global akibat lonjakan kurs dolar serta dinamika politik internasional dipastikan tidak mengguncang stabilitas ekonomi makro di Kabupaten Bekasi. Pemerintah Kabupaten Bekasi mendata bahwa daya beli masyarakat setempat masih berada dalam zona aman, meskipun ada empat komoditas pangan utama yang saat ini sedang mengalami lonjakan harga.
Berdasarkan parameter Indeks Perkembangan Harga Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi selama sepekan terakhir, posisi Kabupaten Bekasi menempati urutan ke-8 di Jawa Barat dengan angka capaian 1,56, yang menunjukkan fluktuasi harga di pasar domestik masih di bawah ambang batas kedaruratan.
Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi Helmi Yenti, menyatakan bahwa pergerakan angka inflasi sejauh ini tidak membawa dampak ekstrem pada stabilitas daya beli warga. Kenaikan terjadi pada komoditas daging sapi, bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, dan cabai rawit merah. Di mana kenaikan di sejumlah pasar tradisional, seperti di Pasar Cikarang, Cibarusah, dan Serang sudah melebihi Harga Eceran Tertinggi.
“Terakhir itu IPH kita ada di angka 1,56. Artinya kalau 1,58 itu IPH masih dianggap aman dan terkendali. Inflasinya masih terkendali dan aman karena masih range tidak terlalu berpengaruh terhadap daya beli masyarakat,” kata Helmi Yenti.
Helmi memaparkan bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni hambatan rantai pasok lokal pada komoditas hortikultura serta kenaikan biaya operasional di tingkat hulu untuk peternakan dalam negeri. Masalah di sektor hulu ini menjadi alasan utama mengapa harga daging sapi di pasar tradisional melambung hingga menembus angka Rp135.000 hingga Rp150.000 per kilogram.
“Kalau daging sapi itu dari daerah pemotongannya atau peternakannya dihitung dari mobilitas atau transportasinya. Itu untuk sapi lokal. Kalau daging impor harganya menyesuaikan daging lokal,” pungkasnya. (Tim Media)


