Merawat Keseimbangan SDM yang “Merasa Bisa” dan “Bisa Merasa”

Oleh: Ruslan Abd. Gani

Pada catatan kali ini, penulis mencoba menelisik makna kata “merasa bisa” dan “bisa merasa”.

Ungkapan atau kata-kata ini, sering kita dengar di berbagai forum. Baik dalam rapat formal, organisasi, seminar, diskusi, simposium, dan acara-acara lainnya.

Bahkan, dan amat mungkin, ungkapan itu menjadi bagian di dalam perjalanan hidup. Kita sering berhadapan dengan dua kemampuan yang tampak serupa, namun berbeda secara substantif.

Oleh karenanya, ungkapan “merasa bisa” dan “bisa merasa”, memang terdengar mirip. Tapi maknanya sangat berbeda. Bahkan, hampir bertolak belakang.

Jadi ungkapan tersebut memiliki susunan kata berbeda, sehingga tekanannya juga berbeda.

Catatan ini suatu selayang pandang dan dari sumber-sumber tulisan yang relevan, sehingga menjadi judul tulisan tersebut di atas.

Mengutip ungkapan Jawa yang terkenal adalah, “Aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa.” Artinya “Jangan merasa paling bisa, tetapi hendaknya bisa merasa.”

Ungkapan ini bukan melarang kita memiliki kemampuan atau percaya diri. Pesannya adalah jangan menyombongkan kemampuan dan jangan kehilangan kepekaan terhadap orang lain.

Makna
Adapun makna “Merasa bisa”, berarti menganggap atau meyakini bahwa diri sendiri mampu melakukan sesuatu. Merasa bisa menyelesaikan pekerjaan. Namun, dalam ungkapan bijak Jawa, “merasa bisa” sering bernada negatif, merasa paling mampu, sok tahu, meremehkan orang lain, atau terlalu cepat yakin tanpa mau belajar.

Makna “bisa merasa”, berarti mampu memahami, menyadari, atau ikut merasakan keadaan dan perasaan orang lain. Makna yang ditekankan adalah empati, tenggang rasa, introspeksi, dan kerendahan hati, bukan rendah diri.

Dampaknya.
Dalam lingkup perusahaan/organisasi, terdapat perbedaan dan dampak pada SDM dan tim kerja.

Ada beberapa hal yang mendasar, mengutip pendapat Valena Daki-Soo (2024) dan Kurnada (2013) dapat disimpulkan, antara lain :

  1. “Merasa bisa”, ada beberapa aspek yaitu, sikap dasar, terlalu yakin pada kemampuan sendiri.
  • Komunikasi, cenderung mendominasi dan kurang mendengarkan.
  • Pengambilan keputusan, dalam pengambilan keputusan lebih banyak berdasarkan sudut pandang peibadi.
  • Kerja sama, dalam kerja sama dapat menimbulkan persaingan atau jarak.
  • Kesalahan, sulit menerima kritik atau mengakui kekurangan.
  • Dampak pada tim, inisiatif anggota tim kerja dapat melemah, konflik, dan ketidakpercayaan bisa melemah.
  1. “Bisa merasa” ada beberapa aspek yakni :
  • Sikap dasar, percaya diri, peka terhadap org lain.
  • Komunikasi, mendorong dialog dan saling memahami.
  • Pengambilan keputusan, mempertimbangkan dampak bagi anggota tim.
  • Kerja sama, memperkuat kolaborasi, saling membantu.
  • Kesalahan, lebih terbuka mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan.
  • Dampak pada tim, kepercayaan, rasa aman, kretivitas, kontribusi anggota tim tumbuh.

Beberapa pola menerapkannya.
Ada beberapa pola menerapkannya, antara lain :

  • Rekrut orang yang mampu sekaligus rendah hati.
  • Latih komunikasi, empati, dan kerja tim, bukan hanya hard skill.
  • Beri ruang mengambil keputusan agar rasa “bisa” tumbuh.
  • Bangun budaya saling menghormati supaya “bisa merasa” ikut berkembang.
  • Evaluasi kinerja dari hasil dan perilaku, bukan hasil saja. Dengan demikian dua potret SDM tersebut di atas, bukan cuma yang yakin pada kemampuan diri, tetapi juga yang peka terhadap orang lain dan situasi kerja.

Dapat dikatakan, merawat potensi SDM merupakan investasi utama jangka panjang bagi perusahaan/organisasi, adalah suatu kebutuhan untuk “memadukan keseimbangan tipikal SDM yang merasa bisa dan bisa merasa”. Ini berarti membentuk manusia kerja yang kompeten, sadar diri, dan berempati. Semoga.