Oleh: Ruslan Abd. Gani
Air bersih salah satu kebutuhan dasar (asasi) manusia. Juga mahluk hidup lainnya. Jadi, air sangat vital bagi kehidupan dan kesehatan. Sumber air wajib dilestarikan untuk keberlanjutan kehidupan dan pembangunan.
Indonesia dikenal sebagai negara tropis. Curah hujan relatif tinggi sepanjang tahun. Namun, potensi air hujan belum dimanfaatkan optimal sebagai sumber air alternatif. Sebagian besar air hujan terbuang ke laut. Bahkan, air hujan menjadi penyebab banjir di sejumlah daerah.
Krisis air bersih menjadi persoalan. Ketersediaan air bersih semakin nyata dan mendesak. Apalagi dengan jumlah pertumbuhan penduduk kian pesat. Ditambah alih fungsi lahan yang semakin meningkat, serta pencemaran lingkungan yang semakin nyata
Oleh karena itu, pemanfaatan air hujan menjadi salah satu solusi menghadapi krisis air bersih. Bagaimana memanfaatkan air hujan menjadi hal penting dan harus dilakukan
Pada kesempatan kali ini, penulis mencoba menyoroti secara sekilas jelang memasuki musim hujan dan BMKG memperkirakan bahwa di akhir Oktober dan awal November ini, mulai turun hujan, walaupun secara sporadis turun hujan di beberapa daerah.
Dari berbagai sumber dan berdasarkan perkiraan secara umum, ketersediaan air bersih harus tetap menjadi perhatian bersama.
Hujan yang turun tidak selalu otomatis menjamin tersedianya air bersih, karena air dapat tercemar, terbuang sebagai limpasan, atau tidak tersimpan dengan baik sebagai cadangan air tanah.
Momentum
Oleh karenanya, masyarakat kiranya perlu memanfaatkan momentum musim hujan dengan menampung air hujan secara aman, menjaga kebersihan sumber air, memperbaiki saluran dan tandon, serta membuat sumur resapan atau biopori.
Maka untuk itu, air hujan yang tertampung dapat digunakan untuk keperluan nonkonsumsi, seperti menyiram tanaman dan membersihkan lingkungan.
Sementara itu, air untuk minum dan memasak tetap harus melalui proses pengolahan yang layak. Penghematan air, pencegahan pencemaran, dan pemeliharaan daerah resapan, perlu dilakukan secara berkelanjutan. Tujuannya, agar cadangan air tetap tersedia ketika memasuki musim kemarau.
Dengan demikian, musim hujan bukan hanya dihadapi sebagai potensi banjir, tetapi juga dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mengisi kembali cadangan air.
Dalam hal ini, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan, sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan ketersediaan air bersih bagi kebutuhan saat ini dan masa mendatang.
Memasuki musim hujan, ketersediaan air bersih perlu dijaga, ditampung, dan dilindungi dari pencemaran—bukan sekadar mengandalkan hujan.
Air hujan dapat menjadi cadangan untuk kebutuhan nonkonsumsi, sementara persediaan air minum tetap harus disiapkan.
Adapun langkah yang dilakukan menyikapi memasuki musim hujan, antara lain :
- Untuk rumah :
- Bersihkan talang, atap, dan wadah penampung sebelum hujan turun.
- Tampung air hujan dalam drum atau tandon yang bersih dan tertutup.
- Buang aliran awal dari atap karena biasanya membawa debu, kotoran, dan kontaminan.
- Gunakan air tampungan untuk menyiram tanaman, mencuci halaman, atau kebutuhan nonminum.
- Jangan meminum air hujan tanpa pengolahan yang sesuai air minum dan air untuk memasak sebaiknya direbus hingga mendidih atau diproses dengan penyaring yang tepat.
- Periksa kebocoran keran, pipa, dan tandon agar tidak terjadi pemborosan.Simpan cadangan air minum untuk menghadapi gangguan distribusi.
- Menjaga sumber air dengan cara:
- Jangan membuang sampah, limbah rumah tangga, deterjen, atau bahan kimia ke sungai, selokan, sumur, dan saluran air.
- Buat lubang biopori atau sumur resapan agar air hujan meresap ke tanah, bukan seluruhnya mengalir menjadi limpasan.
- Sisakan area tanah atau ruang terbuka di sekitar rumah dan lingkungan.
- Lakukan kerja bakti membersihkan saluran air, tetapi hindari menutup saluran dengan sampah.
- Gunakan kembali air yang masih layak, misalnya air bekas mencuci sayur untuk menyiram tanaman.
- Untuk lingkungan dan pemerintah.
Disadari bahwa yang paham di lingkungan yang dekat dengan warga adalah RT/RW di lingkungan masing-masing. Maka untuk itu. RT/RW dapat mendata keluarga yang rentan mengalami kekurangan air, menyiapkan tandon komunal, dan membuat aturan pemanfaatan air hujan.
Hal yang penting lain, pemerintah dan pengelola air juga perlu memperkuat embung, sumur resapan, jaringan distribusi, serta layanan tanggap darurat karena pengelolaan air sebaiknya dimulai sejak musim hujan.
Patut berkata sebagai bahasa simpul, tampung air hujan dengan aman, jaga kualitas sumber air, hemat pemakaian, dan tetap sediakan cadangan air minum yang telah diolah. Semoga.


