Komisi Nasional Keselamatan Transportasi mengungkap penyebab kecelakaan KRL dan Kereta Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, beberapa waktu lalu. Berdasarkan investigasi sementara KNKT, faktor penyebab kecelakaan karena gangguan sinyal dan komunikasi pengendali petugas perjalanan dengan masinis.
“Sinyal bantu terdistraksi (terjadi pengalihan perhatian) dengan lampu-lampu sekitar jalur kereta,” kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono, saat raker dengan Komisi V DPR RI, belum lama ini.
Dia menjelaskan, seandainya masinis kereta Argo Bromo Anggrek dapat melihat sinyal bantu dengan jelas, besar kemungkinan kecelakaan tersebut dapat terhindarkan.
Selain itu, KNKT juga menuturkan adanya jeda komunikasi antara pengendali petugas perjalanan kereta dengan masinis. Akibatnya, informasi penting yang disampaikan tidak langsung diterima masinis maupun asisten masinis Argo Bromo Anggrek.
Urutan informasi yang disampaikan, kata Soerjanto, petugas pengendali perjalanan kereta selatan harus memberitahu kepada Chief. Lalu, Chief memberi tahu kepada petugas PK Timur untuk mengontak masinis kereta Argo Bromo Anggrek. Terdapat jeda komunikasi sehingga masinis Argo Bromo Anggrek baru melakukan pengereman saat 1,3 kilometer sebelum terjadi tabrakan dengan KRL.
Diketahui, kecelakaan KRL dan Argo Bromo Anggrek didahului kejadian tertempernya taksi listrik di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Bekasi Timur.
Lalu, di jalur yang berbeda, KRL tujuan Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur karena adanya kerumunan masyarakat yang melihat kecelakaan taksi listrik yang tertemper oleh KRL tujuan Jakarta Kota. Tak lama berselang, periode 3 menit 43 detik, KRL ditabrak Kereta Argo Bromo Anggrek dari belakang.
Saat ini, penyidik Polri telah menetapkan sopir taksi listrik sebagai tersangka. (tim media)


