Bagian Pengendalian Kehilangan Air Perumda Tirta Bhagasasi memiliki strategi tersendiri dalam mendeteksi kebocoran air yang didistribusikan kepada pelanggannya. Salah satunya, dengan membagi wilayah/zonasi layanan air melalui sistem Distrik Manajemen Air.
Sistem DMA diterapkan untuk membagi atau memperkecil zona pencarian kebocoran air sehingga lebih efektif dalam mengatasi persoalan kebocoran yang disebabkan pipa jaringan distribusi mengalami kerusakan hingga mengalami pecah yang lokasinya berada di bawah tanah.
“Kami menerapkan sistem DMA supaya memperkecil zona dalam pencarian kebocoran pipa di bawah tanah. Jadi, akan lebih mudah karena zona pencariannya dipersempit,” kata Kepala Bagian PKA Perumda Tirta Bhagasasi Hendry, Jumat (12/6/2026).
Dia menjelaskan, cara kerja sistem DMA dapat menginformasikan kepada petugas di lapangan terjadi selisih debit air yang masuk ke “water meter” pelanggan dengan “water meter” induk di IPA. Jika terjadi ketimpangan volume debit air yang cukup signifikan maka diprediksi terjadi kebocoran pipa di zona tersebut.
“Sejauh ini, menerapkan sistem DMA cukup efektif mendeteksi kebocoran air. Namun, belum semua wilayah layanan telah dibangun DMA, karena persoalan anggaran yang besar. ‘Water meter’ yang digunakan merupakan water meter elektromagnetik yang harganya sangat mahal,” ungkapnya.
Selain itu, strategi yang digunakan tim PKA mendeteksi kebocoran air dengan menganalisa data terkait volume penggunaan air kepada pelanggan dan jumlah tagihan yang dibayarkan pelanggan.
“Dari data yang kami analisa tersebut setiap bulannya, dapat juga diketahui apakah terjadi kebocoran air atau tidak,” pungkasnya.
Bagian PKA juga dibekali peralatan modern yang sering digunakan untuk melakukan uji akurasi water meter dan alat pendeteksi kebocoran pipa “leak detector”. (tim media)


