Kabupaten Bekasi menjadi pusat perhatian dalam penanganan sampah sungai dengan hadirnya kapal pembersih sungai bernama “See Hamster 2.0”. Teknologi ramah lingkungan ini dioperasikan untuk memutus rantai polusi sampah dari sungai agar tidak mencemari lautan.
Kapal ini bekerja menghalangi aliran sampah dan mengangkutnya ke tepi sungai, lalu dipilah dan diolah di fasilitas pemilahan yang telah disiapkan. Selain itu, operasional kapal ini menggunakan tenaga panel surya, sehingga ramah lingkungan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bekasi Ani Gustini mengungkap, dengan beroperasinya Kapal See Hamster 2.0 di sungai CBL, ia berharap dapat mengurangi beban pemerintah dalam menangani persoalan sampah di Kabupaten Bekasi. Khususnya yang berada di Daerah Aliran Sungai yang dapat memicu banjir.
“Ini merupakan pertama kalinya Pemkab Bekasi mendapatkan bantuan Kapal Sea Hamster penjaring sampah sungai dari Jerman, bantuan ini sangat membantu upaya kami dalam mencegah sampah agar tidak mengalir ke laut,” terang Ani.
Sementara, CEO dan Founder Waste4Change Mohamad Bijaksana Junerosano menyatakan, kehadiran kapal ini sangat krusial mengingat masih banyak sampah yang dibuang ke sungai, sehingga berpotensi mencemari laut. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup per akhir 2025, Indonesia baru mampu mengelola sekitar 20-22% sampahnya.
”Jadi ada satu kapal, kapal ini akan kemudian menghalangi jalannya sampah. Sampahnya diangkut, dipilah-pilah, dimanfaatkan, diolah dan kita juga punya markas pemilahan sampahnya. Kapal ini bisa beroperasi bolak-balik memiliki kapasitas sekitar 100 hingga 200 kilogram sampah,” ucap Junerosano.
Kehadiran kapal pembersih sungai ini merupakan orogram kolaborasi antara deugro, One Earth–One Ocean (OEOO), Waste4Change, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi dan telah mempertimbangkan berbagai aspek. Mulai dari volume sampah, lokasi, akses hingga risiko. (Tim Media)


